Berhubung di posting sebelumnya gw nulis deg-degan karena ujian,
boleh dong nulis follow-up nya sekarang. hehe.
Ujian MDE: Passed.
Ujian OSCE: Passed.
Alhamdulillaaah. Bisa lulus langsung tanpa remedial.
Hehehe.
Ga kebayang gw kalo harus ujian OSCE lagi, mengalami deg-degan seer yang luar biasa parah itu, menjalani 12 stasion lagi, terus denger bunyi bel jahanam itu lagiii. Noooo.
Gw juga ga nyangka bisa lulus OSCE langsung,
padahal kalo gw inget-inget, gw banyak melakukan kedudulan selama ujian,
ya pas di awal-awal lupa cuci tangan, terus pas masang kateter juga amburadul mana steril mana ga, terus di stasion penyuntikkan mantoux pake diomel-omelin sama dokternya. Huuu! Tapi yang gw senang dari ujian OSCE gw adalah, penguji gw ganteng-ganteng dan baik-baik, mulai dari ADP sampe dr.R,spBA. Cihuy! *dasaaar*
Yang jelas setelah ujian gw uda pasrah, dalam arti kata lain, ya gw uda nyiapin mental buat denger: "...nit, lo harus ulang OSCEnya." *amit-amit*
Berarti karena koasnya uda beres dan ujiannya uda lulus,
gw tinggal satu tahap lagi menuju sumpah dokter: MAGANG.
Yipppiii.
Tapi itu ntar aja dipikirin,
sekarang saatnya liburaaaan :))
Tampilkan postingan dengan label my clinical life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my clinical life. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 April 2011
Sabtu, 16 April 2011
compherensive exams
Senin. 18 April 2011. Ujian tulis akhir.
Selasa. 19 April 2011. Ujian OSCE. dengan 12 pasien.
Takut. Panik. Berasa ga tau apa-apa.
Hanya bisa berusaha sesuai yg gw bisa.
Dan berserah diri kepada Nya.
Selasa. 19 April 2011. Ujian OSCE. dengan 12 pasien.
Takut. Panik. Berasa ga tau apa-apa.
Hanya bisa berusaha sesuai yg gw bisa.
Dan berserah diri kepada Nya.
Senin, 11 April 2011
Percakapan di UGD Bedah
Perhatian! Buat yang ga kuat darah dan jantung lemah, dilarang baca postingan ini. Buahahahaha. *lebay ah*
Jadi situasinya begini.
Sekumpulan koas yang lagi jaga ugd bedah, entah uda jam berapa malem,
ada yang masih sibuk dengan pasiennya,
ada yang duduk2 nempel dekat dengan para residen *eh*,
ada yang mabur ke luar ugd *baca: istirahat*,
dan ada yg duduk2 ngaso dikit bentar di meja keramik tempel di dalem ugd.
sebenarnya ada tulisan "dilarang duduk di sini", but who cares?
hehe.
*saking isengnya, gw pernah foto di bawah tulisan itu, duduk dan bikin tanda victory*
Gw termasuk yang kemudian ikutan ngaso sama adek kelas gw, di keramik itu.
Terus lagi asik2nya ngobrol, adek kelas gw ini, nunjuk ke arah sebelah kiri gw.
Adik kelas:"Itu jempol siapa sih?"
(Jadi ada sebuah jempol kaki *ya, literally JEMPOL* dengan kondisi 3/4 dari seharusnya dan ditaruh di atas kain kasa. kuku nya masih ada ko.)
Gw: "Oh, itu punya bapak yang itu. dia traumatic amputee*. tadi jempol nya dikantongin pas di bawa ke sini."
Adik kelas: "Ooo...."
Gw dan adik kelas: *lanjut ngobrol lagi*
Dateng lagi satu orang.
Adik kelas 2: "Ih, itu jempol sapa sih?"
Adik kelas 1: "punya bapak yang itu."
Adik kelas 2: "Ooo... Tutupin yah. masa kebuka gini."
*sambil ngelipet si kasa*
Gw, adik kelas 1, dan adik kelas 2 lanjut ngobrol.
Ga lama, dateng satu lagi, dan tanpa babibu, langsung mau duduk di deket tempat jempol berada.
Spontan si adik kelas 1 dan adik kelas 2:
"EEEEH, HATI2 JANGAN DIDUDUKIN! ADA JEMPOL DI SITU!!"
Well,
called us, med students, a bunch of combinations of freak + psycho.
hehehe.
*traumatic amputee: bagian tubuh langsung terpotong di tempat kejadian karena mekanisme kecelakaan/trauma.
Jadi situasinya begini.
Sekumpulan koas yang lagi jaga ugd bedah, entah uda jam berapa malem,
ada yang masih sibuk dengan pasiennya,
ada yang duduk2 nempel dekat dengan para residen *eh*,
ada yang mabur ke luar ugd *baca: istirahat*,
dan ada yg duduk2 ngaso dikit bentar di meja keramik tempel di dalem ugd.
sebenarnya ada tulisan "dilarang duduk di sini", but who cares?
hehe.
*saking isengnya, gw pernah foto di bawah tulisan itu, duduk dan bikin tanda victory*
Gw termasuk yang kemudian ikutan ngaso sama adek kelas gw, di keramik itu.
Terus lagi asik2nya ngobrol, adek kelas gw ini, nunjuk ke arah sebelah kiri gw.
Adik kelas:"Itu jempol siapa sih?"
(Jadi ada sebuah jempol kaki *ya, literally JEMPOL* dengan kondisi 3/4 dari seharusnya dan ditaruh di atas kain kasa. kuku nya masih ada ko.)
Gw: "Oh, itu punya bapak yang itu. dia traumatic amputee*. tadi jempol nya dikantongin pas di bawa ke sini."
Adik kelas: "Ooo...."
Gw dan adik kelas: *lanjut ngobrol lagi*
Dateng lagi satu orang.
Adik kelas 2: "Ih, itu jempol sapa sih?"
Adik kelas 1: "punya bapak yang itu."
Adik kelas 2: "Ooo... Tutupin yah. masa kebuka gini."
*sambil ngelipet si kasa*
Gw, adik kelas 1, dan adik kelas 2 lanjut ngobrol.
Ga lama, dateng satu lagi, dan tanpa babibu, langsung mau duduk di deket tempat jempol berada.
Spontan si adik kelas 1 dan adik kelas 2:
"EEEEH, HATI2 JANGAN DIDUDUKIN! ADA JEMPOL DI SITU!!"
Well,
called us, med students, a bunch of combinations of freak + psycho.
hehehe.
*traumatic amputee: bagian tubuh langsung terpotong di tempat kejadian karena mekanisme kecelakaan/trauma.
Minggu, 21 Maret 2010
Still in the cross roads
Seperti apa rasanya "menjilat ludah sendiri?"
(Btw, dont ever try with the real saliva, yuck!)
Yang terutama gw rasain adalah malu. Bukan malu sama orang lain, tapi lebih malu dengan diri sendiri. Malu karena dulu pernah berkata seperti itu dengan yakin tapi akhirnya mematahkan kata-kata itu sendiri (dengan sama yakinnya). Mungkin uda pernah beberapa kali kejadian, tapi yang paling berasa adalah yang terakhir. Dan itu masih menyangkut seputar kehidupan klinik gw, hehe.
Dari dulu sejak masih tingkat pertama kuliah s.ked, setiap kali ditanya mau ambil spesialis apa, gw pasti akan jawab dengan mantab: "spesialis syaraf!". Dimulai dari gw kelas 3 SMA saat melihat artikel di koran mengenai betapa baru sedikitnya spesialis syaraf di Indonesia dan ketika gw belajar neurologi -ternyata menarik - meskipun susah tapi amazing bgd untuk dipelajari (For me, brain and its connection are one the most wonderful things that God ever created). Oh iya, justru karena ga banyak orang yang bisa, gw semakin tertantang untuk masuk.
Kebalikannya, gw juga selalu bilang:
"Kalaupun bukan spesialis syaraf, setidaknya ada satu spesialis yang sudah gw black-list: Spesialis kulit kelamin." Alasannya juga hampir vice versa dengan alasan gw masuk neuro: ilmu kulit menurut gw ga menantang untuk dipelajari. Gitu-gitu aja (bukannya gw bilang gampang yaa, tapi dibandingkan neuro misalnya). Selain itu gw juga mikir buat apa gw susah2 kuliah di kedokteran, kalau akhirnya cuma ngobatin jerawat. Itu adalah stigma gw buat dokter kulit saat kuliah dulu. Well, gw akui, sempit banged pikiran gw saat itu.
Saat akhirnya gw rotasi di bagian syaraf (bulan Desember kemarin) - ternyata oh ternyata - gw sangat ga suka berada di sana. Bahkan di hari ketiga gw masuk bagian syaraf, gw langsung tau kalo niat gw untuk jadi spesialis syaraf - batal sudah. Agak susah menjelaskan dengan detil kenapa nya, tapi yang jelas gw ga enjoy dengan suasananya dan gw ga menikmati bertemu pasien yang kebanyakan sudah kronis, penuh dengan komplikasi dan kebanyakan dari mereka kalau bertanya apa penyakitnya bisa sembuh, akan sangat bohong kalau gw menjawab "iya". Alasan sederhana lain - gw ga tahan bau di bangsal rawat inap nya. 3 minggu masih oke, but for the rest of my life? no, thanks. I just realized at that time, I'm actually just not that into neuro.
Sebaliknya ketika gw masuk rotasi di kulkel, baru hari kedua gw di kulkel gw langsung pengen jadi spesialis kulkel. Sama seperti tadi,gw ga tau cara nulisinnya gimana, tapi yang jelas hal-hal seperti suasananya, saat nganamnesa pasien, kemudian ilmu nya dan semuanya membuat gw sangat suka di bagian ini. Dan trnyata stigma gw mang salah - ilmu kulkel itu luas - mulai dari AIDS, lepra, jerawat sampai alergi. Gw pikir dulu ngobatin penyakit kulit itu kurang helpful dan ga esensial - trnyata melihat pasien yang seneng karena keluhan kulitnya terobati - that's very enjoyable feeling.
Amazing. Ternyata gw lebih puas mengobati seseorang dengan jerawat tapi sembuh total - ketimbang mengobati pasien stroke namun ujungnya adalah pasien (meskipun hidup) cacat slama sisa hidupnya.
Satu hal utama lain kalo gw ambil spesialis kulkel: ga ada jaga dan ga ada gawat daruratnya. gw lebih bisa fleksibel nanti ketika ngatur waktu antara berumah tangga dan berkarir ketimbang gw ambil spesialis yang lebih sibuk kerjanya. Sesuka-suka nya gw dengan karir gw di kedokteran - apapun spesialisasi yang gw ambil nanti sebisa mungkin gw ga mau mengorbankan kewajiban gw nanti sebagai seorang istri dan ibu. Eventhough maybe I was born to be a doctor but I was born as a woman.
Tapi belajar dari pengalaman, dan dari nasihat mama ("Jalani aja dulu semuanya tia..."), gw ga mau terlalu yakin dengan keputusan gw soal ambil spesialis kulit ini. Let it be one of my option for now, not my destination.
Dan ternyata memang bener, sekarang gw lagi di bagian ilmu penyakit dalam, yang dari awal gw uda males-malesan masuk, tapi ternyata .... only God knows how I love being in this department. Ehehe. Bertambah lagi deh satu opsi :p
Terkadang gw berpikir, ketertarikan pada satu bagian tertentu itu ternyata hampir mirip dengan ketertarikan pada seseorang - ga bisa diprediksi, ga bisa ditebak, ga bisa dipaksa dan susah dijelaskan kenapa nya.
Masih ada 4 bagian kecil dan 3 bagian besar lagi untuk dijalani, we'll see - opsi itu akan bertambah lagi atau tidak.
This time I will shut my mouth and see where all those experiences in clinical rotation will lead me into =p
(Btw, dont ever try with the real saliva, yuck!)
Yang terutama gw rasain adalah malu. Bukan malu sama orang lain, tapi lebih malu dengan diri sendiri. Malu karena dulu pernah berkata seperti itu dengan yakin tapi akhirnya mematahkan kata-kata itu sendiri (dengan sama yakinnya). Mungkin uda pernah beberapa kali kejadian, tapi yang paling berasa adalah yang terakhir. Dan itu masih menyangkut seputar kehidupan klinik gw, hehe.
Dari dulu sejak masih tingkat pertama kuliah s.ked, setiap kali ditanya mau ambil spesialis apa, gw pasti akan jawab dengan mantab: "spesialis syaraf!". Dimulai dari gw kelas 3 SMA saat melihat artikel di koran mengenai betapa baru sedikitnya spesialis syaraf di Indonesia dan ketika gw belajar neurologi -ternyata menarik - meskipun susah tapi amazing bgd untuk dipelajari (For me, brain and its connection are one the most wonderful things that God ever created). Oh iya, justru karena ga banyak orang yang bisa, gw semakin tertantang untuk masuk.
Kebalikannya, gw juga selalu bilang:
"Kalaupun bukan spesialis syaraf, setidaknya ada satu spesialis yang sudah gw black-list: Spesialis kulit kelamin." Alasannya juga hampir vice versa dengan alasan gw masuk neuro: ilmu kulit menurut gw ga menantang untuk dipelajari. Gitu-gitu aja (bukannya gw bilang gampang yaa, tapi dibandingkan neuro misalnya). Selain itu gw juga mikir buat apa gw susah2 kuliah di kedokteran, kalau akhirnya cuma ngobatin jerawat. Itu adalah stigma gw buat dokter kulit saat kuliah dulu. Well, gw akui, sempit banged pikiran gw saat itu.
Saat akhirnya gw rotasi di bagian syaraf (bulan Desember kemarin) - ternyata oh ternyata - gw sangat ga suka berada di sana. Bahkan di hari ketiga gw masuk bagian syaraf, gw langsung tau kalo niat gw untuk jadi spesialis syaraf - batal sudah. Agak susah menjelaskan dengan detil kenapa nya, tapi yang jelas gw ga enjoy dengan suasananya dan gw ga menikmati bertemu pasien yang kebanyakan sudah kronis, penuh dengan komplikasi dan kebanyakan dari mereka kalau bertanya apa penyakitnya bisa sembuh, akan sangat bohong kalau gw menjawab "iya". Alasan sederhana lain - gw ga tahan bau di bangsal rawat inap nya. 3 minggu masih oke, but for the rest of my life? no, thanks. I just realized at that time, I'm actually just not that into neuro.
Sebaliknya ketika gw masuk rotasi di kulkel, baru hari kedua gw di kulkel gw langsung pengen jadi spesialis kulkel. Sama seperti tadi,gw ga tau cara nulisinnya gimana, tapi yang jelas hal-hal seperti suasananya, saat nganamnesa pasien, kemudian ilmu nya dan semuanya membuat gw sangat suka di bagian ini. Dan trnyata stigma gw mang salah - ilmu kulkel itu luas - mulai dari AIDS, lepra, jerawat sampai alergi. Gw pikir dulu ngobatin penyakit kulit itu kurang helpful dan ga esensial - trnyata melihat pasien yang seneng karena keluhan kulitnya terobati - that's very enjoyable feeling.
Amazing. Ternyata gw lebih puas mengobati seseorang dengan jerawat tapi sembuh total - ketimbang mengobati pasien stroke namun ujungnya adalah pasien (meskipun hidup) cacat slama sisa hidupnya.
Satu hal utama lain kalo gw ambil spesialis kulkel: ga ada jaga dan ga ada gawat daruratnya. gw lebih bisa fleksibel nanti ketika ngatur waktu antara berumah tangga dan berkarir ketimbang gw ambil spesialis yang lebih sibuk kerjanya. Sesuka-suka nya gw dengan karir gw di kedokteran - apapun spesialisasi yang gw ambil nanti sebisa mungkin gw ga mau mengorbankan kewajiban gw nanti sebagai seorang istri dan ibu. Eventhough maybe I was born to be a doctor but I was born as a woman.
Tapi belajar dari pengalaman, dan dari nasihat mama ("Jalani aja dulu semuanya tia..."), gw ga mau terlalu yakin dengan keputusan gw soal ambil spesialis kulit ini. Let it be one of my option for now, not my destination.
Dan ternyata memang bener, sekarang gw lagi di bagian ilmu penyakit dalam, yang dari awal gw uda males-malesan masuk, tapi ternyata .... only God knows how I love being in this department. Ehehe. Bertambah lagi deh satu opsi :p
Terkadang gw berpikir, ketertarikan pada satu bagian tertentu itu ternyata hampir mirip dengan ketertarikan pada seseorang - ga bisa diprediksi, ga bisa ditebak, ga bisa dipaksa dan susah dijelaskan kenapa nya.
Masih ada 4 bagian kecil dan 3 bagian besar lagi untuk dijalani, we'll see - opsi itu akan bertambah lagi atau tidak.
This time I will shut my mouth and see where all those experiences in clinical rotation will lead me into =p
Sabtu, 20 Maret 2010
Clinical life is a 2 yrs journey with 4 yrs time of packing & preparation
Hampir 6 bulan lewat sejak Oktober 2009, dan selama itulah kira-kira kehidupan gw sebagai koas telah berjalan. Gw jadi ingat sepotong status FB yang gw tulis semalam sebelum masuk hari pertama koas: "... wondering about life after monday..." dan salah satu senior sekaligus teman baik gw ada yang komentar: "It's gonna be super fun, darling!".
"Super fun".
Wow.
*Saat ngebaca itu, gw menduga-duga senior gw ini lagi ngomong sebenarnya atau hanya sarkastik belaka :P
Sekarang setelah tau sendiri rasanya, hmm, dua kata itu masih tetap ga akan gw pakai kalo ada junior gw yang nanya gimana sih rasanya koas, tapi gw ngerti kenapa senior gw itu bilang seperti itu dan gw yakin kalo dia memang ngomong dari hati (hehe)
Kalo gw cerita ke orang gimana rasanya jadi koas,
dengan jadwal senin-jumat dari jam 7 pagi sampe jam setengah 4,
(itu umum nya, tiap bagian sih ada yang beda2 lagi, misalnya anestesi, morning reportnya jam setengah 7 kurang -__-" ),
plus jadwal jaga di beberapa bagian,
yang kalo dapet jaga di workdays start mulai jam 4-5 sore dan baru beres jam 6 pagi terus lanjut lagi masuk jam 7, dan kalo dapet weekend (sabtu/minggu) shiftnya 12 jam,
terus kalo lagi di bagian kecil (3 minggu)jatah ga boleh masuk nya (dengan alasan apapun) cuma dua hari,dan di bagian besar (9 minggu) nambah jadi 6 hari (lumayan), kalau seandainya melanggar harus ngulang lagi satu bagian itu,
kemudian budaya feodal yang ada di rumah sakit (ternyata itu bukan hoax) dengan koas sebagai level paling rendah (contoh: di IPD kegiatan koas pusatnya ada di lantai 5 atau 4, dan gedung IPD punya 3 lift, tapi koas hanya boleh naik tangga, mau dalam keadaan bagaimanapun -__-". dan masih banyak contoh2 lain sebetulnya),
biasanya sih orang lain akan komentar: "Ya ampun. untung gw ga masuk kedokteran."
Hehe.
tapi kenyataannya gw malah sekarang semakin yakin, kalo masuk kedokteran adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup gw dan the chance to be a doctor is a totally bless from God.
Gw sangat suka saat-saat berinteraksi dengan pasien.
Gw sangat suka ketika gw melihat dengan mata kepala sendiri apa yang gw selama ini hanya gw pelajari di buku.
Gw sangat suka suasana ruang operasi - dari bau sterilnya aja uda bisa bikin gw seneng :p
Gw sangat suka suasana rumah sakit - apalagi pas malam hari (dont know why).
Gw sangat suka ketika mendapat ilmu langsung saat melihat dokter-dokter konsulen itu memeriksa pasien.
Dan masih banyak lagi.
Terlepas dari banyak hal yang berat dan jujur keseharian sebagai koas ini memang melelahkan - gw sangat sangat suka kehidupan ini. I could say that medicine is one of my biggest passion in life. Dan merasa begitu beruntung - karena tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk menjadi dokter. (Semoga gw ga pernah lupa untuk selalu bersyukur ^^)
If one of my juniors ask me now the same question I asked 6 months ago,
I'd pick this answer:
"It's Extraordinary Life, darling!" :D
"Super fun".
Wow.
*Saat ngebaca itu, gw menduga-duga senior gw ini lagi ngomong sebenarnya atau hanya sarkastik belaka :P
Sekarang setelah tau sendiri rasanya, hmm, dua kata itu masih tetap ga akan gw pakai kalo ada junior gw yang nanya gimana sih rasanya koas, tapi gw ngerti kenapa senior gw itu bilang seperti itu dan gw yakin kalo dia memang ngomong dari hati (hehe)
Kalo gw cerita ke orang gimana rasanya jadi koas,
dengan jadwal senin-jumat dari jam 7 pagi sampe jam setengah 4,
(itu umum nya, tiap bagian sih ada yang beda2 lagi, misalnya anestesi, morning reportnya jam setengah 7 kurang -__-" ),
plus jadwal jaga di beberapa bagian,
yang kalo dapet jaga di workdays start mulai jam 4-5 sore dan baru beres jam 6 pagi terus lanjut lagi masuk jam 7, dan kalo dapet weekend (sabtu/minggu) shiftnya 12 jam,
terus kalo lagi di bagian kecil (3 minggu)jatah ga boleh masuk nya (dengan alasan apapun) cuma dua hari,dan di bagian besar (9 minggu) nambah jadi 6 hari (lumayan), kalau seandainya melanggar harus ngulang lagi satu bagian itu,
kemudian budaya feodal yang ada di rumah sakit (ternyata itu bukan hoax) dengan koas sebagai level paling rendah (contoh: di IPD kegiatan koas pusatnya ada di lantai 5 atau 4, dan gedung IPD punya 3 lift, tapi koas hanya boleh naik tangga, mau dalam keadaan bagaimanapun -__-". dan masih banyak contoh2 lain sebetulnya),
biasanya sih orang lain akan komentar: "Ya ampun. untung gw ga masuk kedokteran."
Hehe.
tapi kenyataannya gw malah sekarang semakin yakin, kalo masuk kedokteran adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup gw dan the chance to be a doctor is a totally bless from God.
Gw sangat suka saat-saat berinteraksi dengan pasien.
Gw sangat suka ketika gw melihat dengan mata kepala sendiri apa yang gw selama ini hanya gw pelajari di buku.
Gw sangat suka suasana ruang operasi - dari bau sterilnya aja uda bisa bikin gw seneng :p
Gw sangat suka suasana rumah sakit - apalagi pas malam hari (dont know why).
Gw sangat suka ketika mendapat ilmu langsung saat melihat dokter-dokter konsulen itu memeriksa pasien.
Dan masih banyak lagi.
Terlepas dari banyak hal yang berat dan jujur keseharian sebagai koas ini memang melelahkan - gw sangat sangat suka kehidupan ini. I could say that medicine is one of my biggest passion in life. Dan merasa begitu beruntung - karena tidak banyak orang yang dapat kesempatan untuk menjadi dokter. (Semoga gw ga pernah lupa untuk selalu bersyukur ^^)
If one of my juniors ask me now the same question I asked 6 months ago,
I'd pick this answer:
"It's Extraordinary Life, darling!" :D
Langganan:
Postingan (Atom)